SAWAHLUNTO – Bosan dengan gaya modernisasi dan western, sebuah kreatifitas seni bergaya tempo doeloe kembali dimunculkan kalangan anak muda kreatif yang tergabung dalam B&G Modeling Kota Sawahlunto. Dengan menampilkan konsep jadul (jaman dulu), mereka menorehkan kembali gaya hidup bergaya Belanda dan Eropa. Sebuah potret yang hanya untuk dikenang dari sebuah perjalanan sejarah dibalik penderitaan “orang rantai” pekerja paksa tambang batubara Ombilin diakhir abad ke 18 silam.

Opie Sagit Darmizi, adalah pria dibalik obsesi penampilan berpakaian gaya “jaman doeloe” itu. Dia berencana akan menggelar lomba busana tempo doeloe di Museum Goedang Ransoem, Sabtu 5 Maret 2015 nanti. Untuk membangkitkan semangat dan impiannya itu, B&G Modeling yang dilakoninya membuka pendaftaran di Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) setempat hingga 4 Maret 2015 akan datang.

Kepada GoSumbar.com Senin (29/2/2016) Opie mengatakan, konsep yang akan digelarnya memang berbau jadul untuk mengingatkan sebuah kisah sejarah di masa lalu, dimana saat itu hanya bangsa kulit putih alias bangsa koloni yang dapat mengenakan pakaian mewah bergaya Eropa, sementara masyarakat pribumi sama sekali belum tersentuh dengan pakaian seperti bangsa kulit putih tersebut.

Namun, kata Oppie lomba yang digelarnya bukan bertujuan meng-agung-agungkan kemewahan penjajah, melainkan hanya sebatas konsep mengenang sejarah dibalik nasib bangsa pribumi yang hidup dibawah tekanan dan intimidasi kolonialisasi bangsa Eropa saat itu. Sebut saja bagaimana nasib “orang rantai” tanpa baju dan sepatu tapi bekerja sebagai penambang dengan kaki terikat rantai baja. Jika dihubungkan dengan pariwisata, katanya, maka nilai jadulnya terletak pada perjalanan sejarah yang kelam bangsa saat itu, tapi menarik untuk duikenang dan diceritakan bagi generasi saat ini dan mendatang.

“Konsepnya bukan untuk mengagungkan kolonial Belanda atau bangsa Eropa saat itu melainkan nilai sejarahnya Sawahlunto sebagai kota tambang tua bersejarah. Kita tak boleh melupakan sejarah, karena sejarah adalah bagian dari perjalanan hidup yang tak harus dilupakan. Sebab, selama ini yang ditampilkan hanya itu ke itu saja, tapi yang berkonsep jadul belum ada. Inilah yang menginspirasi kami dari B&G Modeling,” ungkap Opie dengan nada datar.

Lomba busana Jadul ini akan dibagi dua katagori cilik dan remaja. Untuk kostum cilik berbasiskan busana informal tempo dulu. Sedang untuk tingkat remaja adalah busana gaun pesta Belanda tempo dulu. Katagore usia untuk peserta cilik adalah TK sederajat dan SD sederajat. Untuk remaja SLTP sederajat dan SLTA sederajat. Mereka dibebankan biaya pendaftaran sebesar Rp 100 ribu per orang, sedangkan hadiah total yang disediakan panitia berjumlah hingga Rp 15 juta.

“Hingga saat ini sudah mendaftar puluhan peserta yang berasal dari berbagai daerah di Suumatera Barat. Kita harapkan, saat pendaftaran ditutup 4 Maret nanti jumlah peserta akan bertambah,” tuturnya meyakinkan. (Iyos)